JAKARTA – Munculnya kasus yang menimbulkan kekhawatiran di kapal pesiar MV Hondius menjadi pengingat bagi seluruh dunia bahwa penyakit yang menular dari hewan ke manusia tetap menjadi ancaman nyata dan bisa terjadi kapan saja.
Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, meminta pemerintah maupun masyarakat di Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan, dan tidak memandang risiko ini sebagai sesuatu yang jauh dari jangkauan atau jarang terjadi.
Kasus ini menyita perhatian setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memantau penyebaran virus jenis Andes di kapal yang berlayar dari Argentina tersebut. Tercatat ada tiga orang yang meninggal dunia, di samping sejumlah kasus yang masih dalam proses pengecekan.
Dua warga Singapura yang pernah berada di kapal itu dinyatakan bebas dari infeksi setelah menjalani pemeriksaan serta masa karantina yang ketat. Meski demikian, pihak WHO tetap melakukan penelusuran ke berbagai negara, mengingat jenis virus ini menjadi satu-satunya yang diketahui bisa menular dari manusia ke manusia.
“Peristiwa di kapal MV Hondius harus menjadi peringatan bagi semua negara, termasuk Indonesia. Kita tidak boleh menganggap hantavirus sebagai ancaman yang jauh atau penyakit langka yang tidak ada hubungannya dengan kita,” kata Edy.
Menurutnya, Indonesia justru memiliki banyak faktor yang meningkatkan risiko penyebaran penyakit ini, mulai dari tingginya jumlah penduduk, pembangunan wilayah yang berjalan cepat, kondisi kebersihan lingkungan yang belum merata, hingga banyaknya populasi tikus yang hidup di lingkungan tempat tinggal warga.
Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan yang dilansir media kesehatan, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir setidaknya tercatat 23 kasus infeksi jenis Seoul Virus di Indonesia.
Penyakit ini menimbulkan gejala gangguan demam disertai kerusakan fungsi ginjal. Dari jumlah tersebut, 20 orang berhasil sembuh, sedangkan tiga lainnya meninggal dunia yang juga memiliki riwayat kondisi kesehatan lain seperti penyakit hati dan gangguan fungsi berbagai organ tubuh.
“Ini membuktikan bahwa ancaman ini bukan sekadar perkiraan semata. Virusnya sudah ada di sini dan kasusnya benar-benar terjadi. Masalahnya, seringkali penyakit ini tidak terdeteksi karena gejala yang muncul mirip dengan demam berdarah, tifus, atau leptospirosis,” ujar Edy.
Perlu dipahami bahwa terdapat perbedaan antara jenis virus yang ditemukan di luar negeri dengan yang ada di Indonesia. Virus Andes diketahui bisa menyebabkan gangguan serius pada paru-paru, yang menimbulkan sesak napas hebat bahkan kegagalan pernapasan. Tingkat risiko kematiannya juga lebih tinggi, dan seperti telah disebutkan, jenis ini bisa menular di antara sesama manusia.
Secara umum, hantavirus menyebar dari hewan ke manusia, dengan tikus sebagai pembawa utama penularan. Seseorang bisa tertular jika menghirup udara yang sudah tercampur partikel kecil dari kotoran, air kencing, atau cairan tubuh tikus.
“Masih banyak orang yang membersihkan gudang, rumah yang sudah lama tidak dihuni, atau tempat yang dipenuhi kotoran tikus tanpa menggunakan perlengkapan pelindung. Hal ini justru menjadi jalur penularan yang sangat berbahaya, dan kesadaran tentang hal ini harus terus dibangun secara serius,” katanya.
Menurut politisi dari PDI Perjuangan ini, ancaman ini seringkali tidak mendapatkan perhatian yang cukup karena tidak selalu menimbulkan wabah besar yang meluas. Padahal, ada jenis virus yang memiliki risiko kematian cukup tinggi, termasuk virus Andes yang bisa merusak sistem pernapasan secara parah.
“Justru karena sifatnya yang sering tidak terlihat secara langsung, kita tidak boleh lengah. Dunia sudah belajar dari pengalaman pandemi, bahwa bahaya kesehatan seringkali datang dari hal-hal yang pada awalnya dianggap tidak penting,” tambahnya.
Pihak WHO sendiri telah memperingatkan kemungkinan masih ada kasus lain yang akan terungkap terkait kejadian di kapal tersebut, mengingat waktu antara seseorang tertular hingga munculnya gejala bisa berlangsung lebih dari dua minggu. Berbagai negara pun kini memperketat pengawasan terhadap orang-orang yang pernah berada di kapal itu.
Anggota dewan yang mewakili daerah pemilihan Jawa Tengah III ini mendorong pemerintah untuk memperkuat sistem deteksi dini terhadap penyakit yang menular dari hewan, termasuk hantavirus.
Caranya dengan menerapkan pendekatan yang menyatukan aspek kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kondisi lingkungan, atau yang dikenal sebagai sistem One Health.
Ia menyebutkan sejumlah langkah penting yang harus segera dijalankan. Pertama, memperluas pengecekan terhadap kasus demam akut yang belum diketahui penyebabnya, sehingga tidak ada kasus yang terlewatkan. Kedua, meningkatkan kemampuan pemeriksaan di laboratorium, termasuk menyediakan alat dan metode pengecekan di rumah sakit rujukan.
Langkah ketiga adalah memperkuat upaya mengendalikan populasi tikus serta menjaga kebersihan lingkungan dengan melibatkan seluruh warga.
Menurutnya, pengelolaan sampah, kebersihan tempat tinggal, dan pengendalian hewan pembawa penyakit harus menjadi bagian utama dari upaya menjaga kesehatan masyarakat.
“Upaya mencegah penyakit ini tidak bisa hanya diserahkan kepada pihak rumah sakit. Hal ini berkaitan erat dengan cara kita menjalani kehidupan sehari-hari dan kondisi lingkungan di sekitar kita,” ujarnya.
Selain itu, Edy meminta agar informasi dan pengetahuan tentang pencegahan disebarluaskan kepada seluruh lapisan masyarakat.
Hal sederhana yang bisa dilakukan antara lain menggunakan penutup hidung mulut serta sarung tangan saat membersihkan tempat yang diduga banyak dihuni tikus, memastikan sirkulasi udara di ruangan berjalan baik, serta menghindari kontak langsung dengan hewan tersebut.
Ia juga menekankan perlunya kerja sama antara berbagai instansi, mengingat penyebaran penyakit ini berkaitan erat dengan perubahan lingkungan, perkembangan wilayah, hingga perubahan iklim.
“Kita tidak boleh menunggu sampai jumlah kasus meningkat drastis baru kemudian bergerak bertindak. Upaya mencegah jauh lebih murah dan jauh lebih penting dibandingkan mengatasi masalah ketika keadaan sudah memburuk,” pungkasnya.
Editor: fatwa














