PATI – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pati Hardi menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan program bongkar ratoon yang digagas pemerintah sebagai langkah mempercepat terwujudnya swasembada gula nasional. Menurutnya, program tersebut menjadi strategi penting untuk meningkatkan hasil produksi tebu melalui peremajaan tanaman yang sudah tidak lagi produktif.
Hardi menjelaskan, bongkar ratoon merupakan proses mengganti tanaman tebu yang telah dipanen berkali-kali dengan bibit baru agar produktivitas lahan kembali meningkat.
“Program ini ditujukan untuk tebu yang sudah tua atau sudah beberapa kali dipanen sehingga perlu dilakukan peremajaan agar produktivitasnya kembali optimal,” ujarnya.
Selain fokus pada peremajaan tanaman, Hardi juga mengusulkan agar lahan tegalan maupun lahan kering yang kurang optimal untuk ditanami padi dapat dimanfaatkan sebagai area pengembangan tanaman tebu. Langkah tersebut dinilai mampu mendukung peningkatan produksi gula nasional sekaligus mengoptimalkan penggunaan lahan pertanian.
“Kalau ada lahan yang kurang produktif untuk tanaman padi, alangkah baiknya ditanami tebu sehingga dapat mendukung program swasembada gula dan lahannya tidak dibiarkan kosong,” katanya.
Ia mengatakan pemerintah telah menyiapkan dukungan bagi petani yang mengikuti program bongkar ratoon, berupa bantuan bibit dan pupuk. Bantuan tersebut diharapkan dapat mengurangi beban biaya yang harus dikeluarkan petani saat melakukan peremajaan tanaman.
Hardi mengungkapkan, kebutuhan biaya untuk melaksanakan bongkar ratoon memang cukup besar. Dalam satu hektare lahan, petani memerlukan sekitar 100 kuintal bibit atau setara dua rit angkutan. Selain itu, masih ada biaya pengolahan lahan menggunakan traktor, penanaman, hingga pemupukan.
“Total kebutuhan biaya untuk bongkar ratoon mencapai sekitar Rp20 juta per hektare. Karena itu, bantuan pemerintah sangat dibutuhkan agar petani lebih ringan dalam melakukan peremajaan tanaman,” jelasnya.
Lebih lanjut, Hardi menilai budidaya tebu memiliki prospek yang baik karena dapat dikembangkan di lahan tegalan yang tidak membutuhkan banyak air seperti tanaman padi. Kondisi tersebut dinilai menjadi keuntungan tersendiri bagi petani, khususnya di wilayah yang memiliki keterbatasan lahan sawah.
“Kalau dibandingkan dengan tanaman lain, menanam tebu relatif lebih tenang karena bisa ditanam di lahan tegalan. Berbeda dengan padi yang membutuhkan lahan sawah atau kondisi tanah yang basah,” pungkasnya.
Editor : Fatwa
















